Tentang Kami

Assalamu'alaykum Sobat Alumni dan Keluarga besar MAN Bangkalan. Selamat datang di blog ini. Blog ini adalah blog Alumni MAN Bangkalan yang diperuntukkan sebagai sarana Shilaturahim, mempererat kembali ikatan persaudaraan antar keluarga besar Alumni MAN Bangkalan serta sebagai media informasi mengenai Alumni MAN Model Bangkalan. View my complete profile

Sobat .. Kirim Artikelmu

Jika ingin mem-post artikel yang berkaitan dengan Alumni dan MAN Bangkalan ; kisah, kenangan, kesan, salam, photo dan lain-lain, silahkan kirim ke alumni.manbkl@gmail.com atau jika berupa pesan singkat, silahkan tulis di shoutbox/buku tamu yang ada di blog ini. SELENGKAPNYA KLIK.

TULIS DISINI !! PESAN, KESAN, SARAN DAN MUTIARA HIKMAH

Showing posts with label Inspirasi dan Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi dan Motivasi. Show all posts

Sunday, July 21, 2013


SEBUAH RENUNGAN: TAK KUHADIRI REUNI, SEBAB AKU MISKIN

SEHARUSNYA PERSAHABATAN TIDAK TERHALANG STATUS SOSIAL

SEBUAH RENUNGAN:
TAK KUHADIRI REUNI, SEBAB AKU MISKIN

Booming Facebook, Booming Reuni

Ini semua gara-gara Facebook. Hebat betul media sosial yang satu ini mempengaruhi bahkan mengubah hidup manusia. Bayangkan saja, teman sekolah, saudara, teman sepermainan waktu kecil, mantan kekasih, mantan teman satu kantor, yang sudah puluhan tahun tak berjumpa, yang kita pikir sudah hilang ditelan bumi, tiba-tiba dalam hitungan minggu atau bulan saja, sudah ditemukan, bahkan sudah bisa kontak lagi. Ini benar-benar sebuah keajaban dunia maya !

Booming Facebook, diikuti dengan maraknya penyelenggaraan acara reuni, sebab pertemuan di dunia maya dirasa tak cukup lagi memuaskan rasa rindu pada teman di masa lalu. Beragam undangan reunipun berdatangan. Dari reuni SD hingga reuni kantor. Sayang saya tidak bisa menghadiri seluruh undangan reuni itu karena berbagai alasan.

Selalu ada perasaan yang sama manakala kita menghadiri acara reuni : perasaan bahagia ketika rindu terobati ,saat akhirnya dapat berjumpa lagi dengan sahabat tercinta yang telah hilang bertahun-tahun. Rasa haru biru yang menyelinapi hati saat menyalami Bapak dan Ibu Guru yang sudah sepuh, juga suasana nostalgia yang begitu melenakan, yang membuat kita tak ingat umur, terlupa sejenak bahwa kita kini sudah menjadi orang tua. Obrolan dan canda tawa yang terjalin, sangat menghanyutkan kita ke masa muda, saat kita masih sekolah dulu. Ah asyiknya ..

TAK MENGHADIRI REUNI SEBAB MISKIN


Dalam sebuah kunjungan ke rumah famili saya di Bandung, saya terlibat obrolan serius dengan seorang kerabat dekat saya. Kerabat saya itu seorang laki-laki yang usianya lebih muda beberapa tahun dibawah usiaku. Pekerjaan sehari-harinya adalah berjualan bensin eceran di sebuah kios kecil di pinggir jalan raya di kota Bandung. Sebut saja nama kerabatku itu Fahmi.

Dengan pekerjaan seperti itu, tentu saja Fahmi tidak bisa membuat keluarganya (istri dan ketiga anaknya ) hidup nyaman berkecukupan secara materi. Itu terlihat dari rumah beserta isinya yang sangat sederhana dan terkesan seadanya. Dan disini, di atas sehelai karpet di ruang keluarga yang sempit, kami berbincang hangat tentang segala hal, maklum sudah lama tidak bertemu.

Kebetulan saya dan Fahmi satu sekolah saat di SD dulu. Kepada Fahmi saya menyampaikan rencana acara reuni akbar SD untuk semua angkatan yang akan dilaksanakan selepas Lebaran nanti. Mendengar kabar itu, Fahmi hanya terdiam dan tampak tercenung. Tadinya saya tidak terlalu memperhatikan perubahan air mukanya. Namun setelah mendengarkan kata-katanya, gantian sayalah yang tercenung cukup lama

” Aku tak akan menghadiri acara reuni dimanapun, sebab aku miskin “

Kata – kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu pelan dan sedih. Saya terhenyak mendengarnya, namun sudah dapat menduga kelanjutan kalimatnya.

“ Aku malu pada teman-teman yang sudah kaya dan sukses “

“ Apa hubungannya reuni dengan kaya- miskin ? ayolah datang ! yang penting silaturahminya. Lagi pula tak akan ada orang yang bertanya-tanya apakah kita ini kaya atau miskin ! “, bantahku. Bantahan yang aku tahu terdengar sangat klise dan sangat naïf jika tidak dapat dikatakan bodoh.

Fahmi hanya tersenyum, menghela nafas, dan menggeleng. “ Aku nggak akan datang “. Pembicaraan tentang reunipun berhenti sampai disitu, tak dilanjutkan lagi sampai saya dan suami pamit pulang.


KADANG REUNI MEMANG MENJADI AJANG PAMER
( Ukuran Kesuksesan Kaum Hedonis : HARTA )

Apa yang pertama kali ditanyakan di acara reuni, saat pertama kali berjumpa dengan teman-teman yang sudah lama sekali tidak bertemu ? apakah pertanyaan seputar : sekarang tinggal dimana ? sudah married ? anaknya sudah berapa ?. Mungkin terdengar seperti pertanyaan biasa saja, basa-basi normal yang acap kali terlontar dalam setiap pergaulan. Namun bahkan pertanyaan sesederhana itu menjadi sangat sensitif bagi sebagian orang yang (mohon maaf) belum mendapatkan jodohnya sementara usia semakin menua umpamanya, atau bagi pasangan yang belum mendapatkan keturunan padahal sudah bertahun-tahun menikah. Jadi jangankan pertanyaan soal kaya atau miskin ( yang mana pertanyaan seperti ini mustahil dilontarkan dalam keadaan serius), perkara sudah menikah dan memiliki keturunan saja sudah cukup membuat sebagian orang enggan menghadiri acara reuni, karena merasa malu dan minder.

Katakanlah pertanyaan -pertanyaan standar sudah terlampaui, lalu masuklah kita pada pertanyaan berikutnya, yakni soal pendidikan, soal pekerjaan, soal karir, dsb. Nah disinlah letak permasalahannya. Ketika pembicaraan sudah menyangkut masalah-masalah itu, akan ada teman-teman yang merasa sangat enggan untuk menjawab, karena merasa minder, sebab pendidikan dan pekerjaannya tak terlampau bergengsi, tak terlampau berkelas dan menghasilkan income yang besar untuk dibanggakan. Beberapa teman lagi memilih menghindar dengan tidak menghadiri reuni, daripada harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan serupa itu.

Saya tidak dalam kapasitas menilai acara-acara reuni yang sudah saya hadiri, karena saya sangat menghargai teman-teman yang sudah bersusah payah menyelenggarakan acara tersebut, dan sebab saya sangat menghormati teman-teman saya. Lagi pula semua acara reuni yang saya hadiri, jauh dari kesan hedonik.

Namun di luar itu, kita melihat betapa banyak reuni yang digelar dengan sangat megah di hotel-hotel berbintang, dengan acara dan sajian makanan minuman serba mewah dan melimpah, lebih mirip sebuah pesta ketimbang reuni. Oh ya tentu saja mereka yang hadir adalah orang-orang yang sudah sukses, sudah kaya raya, atau sudah menjadi pejabat atau tokoh ternama di negeri ini. Terlihat dari penampilan mereka yang serba gemerlap , juga terlihat dari deretan mobil mewah yang terparkir di pelataran hotel, dengan petugas keamanan dan kepolisian berseliweran di sekitar area reuni.

Apakah mereka teman-teman kita ? ya tentu saja, mereka adalah teman-teman kita, teman sekolah kita. Bahkan mungkin saja mereka adalah teman sebangku kita, yang terbawa nasib menjadi orang yang sukses secara duniawi. Perkara mereka telah terlihat bak penduduk negeri langit, jangan lupa sudah berapa masa kita tak berjumpa dengan mereka ? jangan lupa juga, waktu yang telah lama terlampaui membuat manusia berubah. Tak hanya fisiknya, namun sifat dan karakternya pun bisa saja berganti.

Tak usah heran jika kemudian dalam kesempatan reuni, kita menemukan teman karib kita begitu membanggakan penampilannya yang serba wah, menceritakan dengan penuh semangat perawatan wajah yang dia jalani, tatkala teman-teman yang lain memuji kemulusan kulitnya. Menceritakan dengan sumringah perjalanan-perjalanan bisnisnya ke kota-kota besar dunia , seraya mempermainkan tali tas Hermesnya yang berharga puluhan juta. Jika sudah begini, tak ada gunanya kita membanggakan anak kita yang hafal 5 juz Al Quran, atau juara Olimpiade Fisika, atau rasa syukur karena anak kita diterima di perguruan tinggi negeri. Tak ada manfaatnya, karena sama sekali bukan itu ukuran kesuksesan kaum hedonik.

Lebih banyak teman-teman yang kurang beruntung

Lalu bagaimana dengan teman-teman yang belum sukses ? bagaimana dengan teman-teman yang bekerja mencari nafkah membanting tulang menjual bensin eceran dan tambal ban seperti Fahmi ? yang tinggal di rumah kontrakan terselip di pelosok gang sempit yang kumuh dan pengap ? yang hanya memiliki kendaraan sepeda motor cicilan ?. Apakah orang-orang seperti Fahmi akan memiliki cukup keberanian untuk hadir ke acara reuni semegah itu ? Fahmi tidak berani, dan saya rasa banyak orang seperti Fahmi yang juga tak cukup memiliki nyali untuk melakukannya.

Saya sangat memaklumi perasaan Fahmi. Sebab bagi orang yang tidak mampu, pembicaraan tentang kelimpahan materi di antara teman yang sukses hanya akan melukai perasannya. Dia mungkin tidak merasa iri dengan keberhasilan teman-temannya, tapi dia jelas merasa sedih. Betapa tidak merasa sedih, jika dilihatnya teman-teman sepermainannya hidup serba berkecukupan, sementara dia serba berkekurangan ?

Saya jadi berpikir, pantas saja acara- acara reuni yang saya datangi, hanya dihadiri sebagian kecil saja dari jumlah keseluruhan yang tercatat dan seharusnya hadir. Kemanakah gerangan teman-teman yang lain ? mengapa tidak ada kabar beritanya ?. Tadinya saya berpikir, mereka mungkin sibuk, atau terkendala jarak yang jauh. Namun melihat Fahmi, saya jadi berpendapat lain. Mungkin karena mereka yang tidak hadir itu memiliki alasan yang sama dengan Fahmi : merasa malu menghadiri reuni karena miskin.

SEHARUSNYA PERSAHABATAN TIDAK TERHALANG STATUS SOSIAL

Saya tetap merasa bersyukur, karena sebagian besar teman-teman saya tidak berkelakuan aneh, meski mereka telah sangat sukses dari segi materi dan status sosial di masyarakat. Hanya segelintir saja yang bersikap sangat ajaib, kalau tidak bisa dibilang norak dan berlebihan dalam memamerkan kekayaannya. Mereka ini sangat tidak empatif terhadap orang-orang yang kesusahan.

Bagi orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi, harta sama sekali bukan ukuran kesuksesan, dan sama sekali bukan syarat bagi terjalinnya sebuah pertemanan. Dari dulu sampai kapanpun, teman tetaplah teman, tak boleh ada yang menghalangi, apalagi hanya sekedar harta yang sifatnya sementara.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa reuni tidak pernah salah. Yang salah adalah segelintir oknum hadirinnya. Hadirin yang berlagak jadi orang yang paling penting sedunia, yang bersikap mentang-mentang. Orang-orang seperti inilah yang membuat teman-teman yang kurang beruntung, menjadi enggan hadir, dan menyebabkan tujuan reuni tidak tercapai.

Sementara pendapat saya bagi teman-teman yang enggan menghadiri reuni karena faktor ketiadaan harta, percayalah bahwa sebagian terbesar dari kami adalah orang-orang yang memandang persahabatan adalah sesuatu yang sangat bernilai dalam hidup kami. Tak perlu malu menghadiri reuni hanya karena ketiadaan harta, karena kami tak peduli. Kami hanya rindu padamu, kami hanya ingin mendengar kabar, bahwa engkau tetap sehat dan penuh semangat dalam mengarungi kehidupan ini. Selebihnya, tak penting lagi.

Tentu saja kami mengerti perasaanmu, perasaan tidak setara dihadapan teman-teman yang lain. Tapi ingat, engkau tidak mengetahui apa yang telah kami lalui dalam puluhan tahun hidup kami. Dan jika engkau menganggap kami berhasil, kami merasa bersyukur. Namun engkau juga harus tahu, bahwa ukuran keberhasilan dan kebahagiaan kami, bukan semata-mata sebanyak apa harta yang kami miliki. Kami hanya ingin berteman denganmu, selamanya.

http://www.kaskus.co.id/thread/51e6bcf1621243c03a000009/tak-kuhadiri-reuni-sebab-aku-miskin/
»»   READMORE...

Tuesday, November 22, 2011


Mutiara Hikmah : Terlalu Percaya Diri Terhadap Amal

Oleh : Qosim al-Bankalani
Alumnus MAN Bangkalan 2006

Dari Ahmad bin Muhammad bin abdul karim bin Athoillah as-Sakandary :

من علا مة على الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل
"Tergolong tanda-tanda berpegang teguh (terlalu percaya diri) terhadap amal perbuatan adalah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika terjadi kesalahan"

Sejenak kami coba jelaskan:

Dijelaskan kata hikmah ini berkaitan dengan ibadah dan amal perbuatan seseorang. Dalam hal ibadah, orang yang beribadah dengan mengandalkan amalan ibadahnya belaka tanpa rahmat Allah maka saat ia melakukan kesalahan ia akan kehilangan harapan pada rahmat Allah karena kesalahan yang diperbuatnya. ia akan mengira dirinya tak akan mendapatkan ampunan darinya terhadap amalan yang diperbuat maka harapannya akan rahmat Allahpun akan terus berkurang. "Amalan bukan satu-satunya tolak ukur sebuah ridlo Allah, tetap beribadah karena Allah dan mohon ampun atas segala kesalahan"


Sedangkan, orang2 yang beramal (bekerja) karena mencari rahmat allah... dengan kata lain tidak mengandalkan pekerjaannya, maka semangatnyapun tak pernah redup walau ia melakukan kesalahan dan kebangkrutan,,, ia masih yakin, orang yang berusaha akan mendapatkan apa yang diusahakannya, karena itu adalah janji allah dan sudah menjadi sunnatullah di dunia ini. ia akan yaqin pula bahwa selama dirinya berusaha maka Allah bersama dirinya, menolong dirinya dalam mewujudkan keinginannya.


Sebuah Semangat yang tak akan pernah redup saat kita yaqin pada ketentuan, kepastian, dan ketetapan Ilahi Robbi. Allah berfirman:

قل ياعبادي الذين اسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله ان الله يغفر الذنوب جميعا انه هو الغفورالرحيم

Wassalamu'alaykum,

»»   READMORE...

Tuesday, November 15, 2011


Masih Ingat Dengan Hukum Kekekalan Energi ? Klo masih, Yuk Baca Ini ya...

Ketahuilah bahwa Allah SWT telah menciptakan semuanya dalam ketetapan yang sudah baku sehingga dalam energi pun dikenal dengan hukum kekekalan energi. Masih ingat apa itu hukum kekekalan energi ? tentu masih ingat donk.. ? siapa dulu yang ngajarin pas di MAN ?? siapa yach... ? hmm.. oiya.. Ibu Aisyah, nah ini dia guru yang cantik dan baik hati, guru yang mengajar fisika. Waduh waduh... fisika itu kan penuh rumus, ribet ah .. , males ngapalin rumus...? eiiiiitttt.. ntar dulu friend, bro, sob, teman, kawan, and taretan.., kita disini tidak sedang membicarakan rumus-rumus fisika tapi hanya teori fisika yang berkaitan dengan energi. Berbicara energi, pasti ingatnya ma pak Albert Einstein, yah... itu dia orang yang penah mengemukakan Hukum Kekekalan Energi, bunyinya seperti ini ;


"Energi tidak bisa diciptakan, juga tidak bisa dimusnahkan. Namun energi dapat diubah ke bentuk energi yang lain"

Gimana .. sekarang sudah inget kan mengenai hukum kekekalan energi ? Ok bro... dengan kata lain, energi itu jumlah nya tetap, betul gak ? maka yang ada hanyalah perubahan energi. Sehingga apa yang kita lakukan maka itu pula yang kita tuai. Oleh karena itu, mari kita buat rumus (waduh sok ni orang, sok ngalahin pakar fisika, eit.. tenang bro, rumusnya mudah kok). yaitu :

1 sebab = 1 akibat

Apabila kita berbuat baik maka baik pula balasannya begitu pula sebaliknya. Lho..lho.. tapi kenapa ada orang nanya ginih, .. "saya sudah berbuat baik tapi kok gak ada balasannya?" tenang bro.. ketahuilah Allah SWT tidak akan pernah melupakan kita, Allah SWT akan menyimpannya, seorang motivator mengistilahkan ini dengan sebutan :

Tabungan Energi Positif
(anggap istilahnya seperti itu bro, kita singkat jadi "TEP"), Begitu pula sebaliknya.

Sehingga rumus selanjutnya adalah :

1 sebab = TEP + akibat.

Itulah mengapa ada kisah seorang tukang becak bisa naik haji, itu karena ia selalu menggratiskan orang naik becaknya setiap hari jum'at. Ia cukup minta do'a penumpangnya untuk mendoakan ia naik haji. Dan akhirnya, bisa naik haji.
Energi yang kita tebarkan di dunia tak akan pernah hilang. energi itu pada saatnya nanti akan kembali kepada kita sendiri dalam bentuk yang lain atau bisa jadi dalam bentuk yang sama pula.
Intinya, apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan, kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan, kita pun akan mendapat balasan berupa keburukan pula”.

Bukankah Nabi Muhammad pernah bersabda,
"Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain".

Maka dari itu, berlomba-lombalah menebarkan kebaikan (energi positif) kepada keluarga, sahabat, guru dan siapa saja. Dan mulai sekarang, mari kita berhenti menabur energi-energi negatif.

^____^ 
http://www.facebook.com/notes/sahabat-man-bangkalan/masih-ingat-dengan-hukum-kekekalan-energi-klo-masih-yuk-baca-ini-ya/279287037246
»»   READMORE...