Tentang Kami

Assalamu'alaykum Sobat Alumni dan Keluarga besar MAN Bangkalan. Selamat datang di blog ini. Blog ini adalah blog Alumni MAN Bangkalan yang diperuntukkan sebagai sarana Shilaturahim, mempererat kembali ikatan persaudaraan antar keluarga besar Alumni MAN Bangkalan serta sebagai media informasi mengenai Alumni MAN Model Bangkalan. View my complete profile

Sobat .. Kirim Artikelmu

Jika ingin mem-post artikel yang berkaitan dengan Alumni dan MAN Bangkalan ; kisah, kenangan, kesan, salam, photo dan lain-lain, silahkan kirim ke alumni.manbkl@gmail.com atau jika berupa pesan singkat, silahkan tulis di shoutbox/buku tamu yang ada di blog ini. SELENGKAPNYA KLIK.

TULIS DISINI !! PESAN, KESAN, SARAN DAN MUTIARA HIKMAH

Tuesday, March 23, 2010


Karena Kita Semua Adalah Saudara

Oleh : Abdurrohim
Alumnus MAN Bangkalan 2006

Bagaimanapun keadaan kita selama kita adalah seorang Muslim maka wajib bagi kita untuk senantiasa menjaga ikatan persaudaraan. Karena, Allah SWT telah mempersaudarakan kita dalam satu keimanan yakni Islam. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam surat Al-Hujarat 49 ayat 10 :

“Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”

Itulah dasar persaudaraan kita. Oleh sebab itu, dalam sebuah ikatan persaudaraan hendaknya membuang sejauh-jauhnya sikap sombong, sikap acuh, serta sikap menghinakan (merendahkan) orang lain. Sikap seperti itu, selama masih dimiliki oleh seseorang maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan cenderung menyombongkan dirinya jika bertemu dengan sahabat-sahabatnya sekalipun, enggan untuk menyapanya (memulai salam) terhadap saudara/sahabatnya, enggan bershilaturahim. Padahal Islam sangat melarang adanya sifat-sifat tersebut dalam diri seorang Muslim.

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. ” (QS. Al Israa’ 17 : 37)

Untuk apa kita menyombongkan diri, apakah kita tidak pernah mengambil pelajaran dari sifat sombong Iblis (laknatullah ‘alayh) yang enggan bersujud pada Adam as, padahal Allah SWT memerintahkanya, Itulah yang menyebabkan Iblis dikeluarkan dari Surga dan akan kekal kelak di Neraka.

“Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”

Begitu besarnya dampak sikap sombong sehingga hanya karena satu kesalahan tersebut, Iblis dilaknat oleh Allah. Jangan mengira kalau Iblis itu tidak beriman pada Allah, Iblis percaya terhadap Allah sama seperti kita namun hanya karena sikap sombong itulah yang menyebabkan Iblis dilaknat. Wajar saja jika Al-Imam Sufyan Ats-Tsaury Radliyallahu ‘Anhu yang merupakan guru besar Imam Malik pernah mengatakan :

“Setiap maksiat yang timbul dari syahwat masih bisa diharapkan ampunannya, tetapi setiap durhaka yang timbul dari sikap sombong tidak dapat diharapkan ampunannya ; karena kedurhakaan Iblis itu berasal dari kesombongan, sedangkan kesalahan Adam berasal dari syahwat. [Nahsaihul Ibad]

Maka berhati-hatilah terhadap sikap sombong baik itu kepada teman/sahabat, mitra kerja maupun terhadap orang lain. Siapalah kita, kita hanya tercipta dari cairan yang menjijikkan, jika karena bukan rahmat Tuhanmu maka kita akan tetap sebagai cairan yang tak berguna.

Dan jangan pernah bersikap acuh terhadap saudara kita (sahabat kita). Islam tidak pernah membeda-bedakan seorang hamba kecuali dalam hal ketaqwaan “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS. Al-Hujuraat 49 : 13). Serta jangan pernah merendahkan siapapun, bisa jadi orang yang kalian anggap rendah adalah orang yang paling mulia disisi Tuhannya.

Hendaknya sebagai Mukmin yang bersaudara, selalu memulai salam dimanapun kalian berjumpa baik di dunia nyata maupun didunia maya (cyber) sekalipun. Ini tidak sebatas kepada orang kita kenal saja, namun kepada siapa saja yang kita jumpai karena mengucapkan salam bukan hanya sebatas terhadap orang yang kita kenal.
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mau mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja”.(HR. Ahmad)

“Tidaklah kamu akan masuk surga sehingga kamu beriman, dan tidaklah kamu beriman sehingga kamu saling mencintai. Tidaklah kamu mau kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai .? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu”.(HR. Muslim. Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayan Annahu Laa Yadkhulu Al-Jannata illa Al-Mu’minuun 2:35)

Terakhir, jagalah ikatan persaudaraan dengan shilaturahim (menyambung kasih-sayang) antar sesama teman, kerabat dan masyarakat. Jangan pernah memutuskan hubungan kekeluargaan dengan siapapun.

Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditunda umurnya, maka hendaklah bersilaturrahim” (Muttafaq ‘alaih). “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan”.(Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wash-shilah wal adab, Bab Shilaturrahim wa Tahrimi Qathi’atiha 16:114)

Wallahu subhanahu wa ta'alaa a'lam

»»   READMORE...

Islam Rahmatan Lil 'Alamiyn

Oleh : Hosen Mohammad Dahri
Alumnus MAN Bangkalan 2005

Saat melihat berita di koran dan televisi. saya sangat kasian kepada orang-orang yang meninggal karena katanya mau memperjuangkan islam. entah model/Syariat islam yang seperti apa yang mau di perjuangkan, rasa kasihan ini bermula saat muslim sesama muslimnya saling baku tembak dan akhirnya jatuh korban di antara keduanya. yang paling saya sesalkan kenapa mereka tidak saling dialog saja dalam menyelesaikan masalah ini, bukannya islam rahmat bagi semuanya. jangankakan sesama muslimnya saling membunuh dengan non muslim saja di larang salaing membunuh kecuali mereka jelas memusuhi muslim.

menurut saya pengertian rahmatan lil alamin itu untuk semua makhluk allah yang ada di bumi ini jangan sampai saling mencaci maki, memfitnah, adu domba, apalagi sampai saling membunuh.semua sudah ada aturannya. kalau melakukan kekerasan atas nama agama itu saya rasa sangat tidak etis. apapun agamanya pasti melarang melakukan kekerasan tidak terkecuali agama islam yang sangat menjunjung nilai-nilai toleransi seperti yang pernah di contohkan oleh nabi Muhammad SAW. Siapa lagi kalo bukan beliaunya yang pantas jadi tauladan dalam kehidupan dunia ini? Nabi muhammad sangat tegas dalam menyampaikan agamanya tapi tidak pernah mengatas namakan agama sebagai alasan untuk melakukan kekerasan, bahkan beliau memperjuangkan islam selalu dengan damai kecuali mereka yang menyerang dan membunuh kaumnya dan itupun sebagai perlindungan bukan karna mau menguasai ataupun balas dendam, sampai pembebasan kota makkahpun nabi melarang kaumnya untuk menyakiti orang-orang yang memusuhi dan pernah membunuh bagian dari keluaga mereka.

kembali kepada islam rahmatan lili alamin dalam artian bukan islam rahmatan lil muslimin, kalo orang islam sudah bisa menjaga dirinya dari bergaul dengan orang non-muslim apalagi dengan sesama muslim lainnya pasti akan baik-baik saja. yang terjadi saat ini adalah pemahaman yang selalu menylahkan kelompok satu dengan kelompok lainnya, agama satu dengan agama lainnya, kepercayaan satu dengan kepercayaan lainnya, semua itu yang menyebabkan kerenggangan hungan antara sesama agama dan juga antar agama. okelah, setiapa stiap kelompok, kepercayaan, agama meyakini kebenarannya masing-masing tapi alangkah baiknya pemebenaran yang ada pada masing masing itu semua hanya buat mereka sendiri jangan sampai saling fitnah, caci maki bahkan saling membunuh. bukankah ajaran islam mengajarkan agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku, sedangkan dalam kepercayaan dalam kelompok adalah kepercayaanku adalah kepercayaanku sedangkan kepercayaanmu adalah kepercayaanmu, selagi tidak melenceng dari dasar aturan dasar agama islam (al-quran dan al hadist) kenapa harus saling membunuh, kenapa saling caci maki. bukankah masih ada pekerjaan yang lebih penting dari caci maki dan saling membunuh..

islam akan tetap menjadi rahmatan lil alamin mana kala ummat muslim bisa saling menjaga akidahnya masing-masing dan menjaga hubungan baik dengan sesama muslim begitu juga dengan non-muslim dan terakhir hungan baik dengan semua makhluk Allah.

Wallahu a'lam.

»»   READMORE...

Membumikan Man Jadda Wa Jada

Oleh : Ahmad Zamroni
Alumnus MAN Bangkalan 2006

Anda pernah mendengar ungkapan Man Jadda Wa Jada? Namun sudahkah Anda mengaplikasikan prinsip ini? Banyak sudah tahu namun masih sedikit yang mengaplikasikannya.

Banyak contoh yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang tidak menerapkan prinsip ini. Mereka cepat menyerah, berhenti berusaha, dan menyerah pada nasib.

Ciri utamanya ialah suka mengatakan “saya tidak bisa”.

OK, bagi yang tahu artinya, man jadda wa jada berarti barangsiapa bersungguh-sungguh pasti dapat. Setahu saya, ini bukan hadist, meski menggunakan bahasa Arab. Mungkin sejenis pepatah Arab tetapi mengandung makna yang dalam.

Kata kunci dalam pepatah ini ialah jadda atau bersungguh-sungguh. Jadi, sejauh mana Anda sudah mengaplikasikan pepatah ini ialah sejauh mana Anda bersungguh-sungguh.

Silahkan Anda periksa pertanyaan berikut dan jawablah dalam hati Anda. Silahkan Anda ukur diri Anda tanpa dalih tanpa alasan (jika bersungguh-sungguh ingin maju).

* Sudahkah Anda bersungguh-sungguh melihat peluang. Coba lihat catatan Anda, sudah seberapa banyak potensi peluang yang Anda catat?
* Seberapa dalam Anda meneliti sebuah ide bisnis?
* Seberapa banyak ide-ide mengoperasikan bisnis yang sudah Anda coba?
* Seberapa banyak ide-ide pemasaran yang sudah Anda lakukan?
* Sudah berapa kali Anda gagal dan bangkit lagi mencoba?
* Seberapa keras Anda mencari solusi masalah Anda?
* Berapa banyak kontak yang sudah Anda kumpulkan untuk mendukung bisnis Anda?
* dan sebagainya.

“Tapi saya…”. Yah… jika Anda masih suka mengatakan “tapi” sebagai dalih tidak berusaha, artinya Anda belum bersungguh-sungguh. Mungkin dalih Anda benar, tetapi tetap saja Anda tidak meraih apa yang Anda inginkan.

Sumber : http://www.motivasi-islami.com/membumikan-man-jadda-wa-jada/


»»   READMORE...

7 Wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam

Oleh : Aisyah Hasan
Alumnus MAN Bangkalan '97

Rasulullah berwasiat, cintailah fakir-miskin, perbanyak silaturrahmi, jangan suka meminta-minta dan jangan takut celaan dalam berdakwah

“Dari Abu Dzar ia berkata; “Kekasihku (Rasulullah SAW) berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahku agar aku melihat orang-orang yang di bawahku dan tidak melihat orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahim dengan karib kerabat meski mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku diperintahkan agar memperbanyak ucapan La haula walaa quwwata illa billah, (5) aku diperintahkan untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, (7) belaiu melarang aku agar aku tidak meminta-minta sesuatu kepada manusia” (Riwayat Ahmad).

Meski wasiat ini disampaikan kepada Abu Dzar RA, namun hakikatnya untuk kaum Muslimin secara umum. Sebagaimana kaidah: (Al-Khitobu li’umuumil-lafdzi, walaisa min khususil asbab).

Wasiat pertama, mencintai orang miskin.

Islam menganjurkan umatnya agar berlaku tawadhu’ (berendah hati) terhadap orang-orang miskin, menolong dan membantu kesulitan mereka. Demikianlah yang dicontohkan para sahabat di antaranya Umar bin Khaththab Radhiallahu anhu (RA) yang terkenal sangat merakyat, Khalifah Abu Bakar yang terkenal dengan sedekah “pikulan”nya, Utsman bin Affan dengan kedermawanannya.

Cintailah dan kasihanilah orang-orang miskin, sebab hidup mereka tidak cukup, diabaikan masyarakat dan tidak diperhatikan. Orang yang mencintai fuqara’ dan masakin dari kaum Muslimin, terutama mereka yang mendirikan shalat, dan taat kepada Allah, maka mereka akan dibela Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) di dunia dan pada hari kiamat.

Sebagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (Riwayat Muslim).

Juga sabda beliau, “Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang jihad fi sabilillah…..” (Riwayat Bukhari). Dalam riwayat lain seperti mendapatkan pahala shalat dan puasa secara terus menerus….

Wasiat kedua, melihat orang yang lebih rendah kedudukannya dalam hal materi dunia.

Rasulullah memerintahkan agar kita melihat orang-orang yang berada di bawah kita dalam masalah dunia dan mata pencaharian. Tujuannya, tiada lain agar kita selalu bersyukur dengan nikmat Allah yang ada. Selalu qona’ah (merasa cukup dengan apa yang Allah karuniakan kepada kita), tidak serakah, tidak pula iri dengki dengan kenikmatan orang lain.

Memang rata-rata penyakit manusia selalu melihat ke atas dalam hal harta, kedudukan, dan jabatan. Selama manusia hidup ia selalu merasa kurang dan kurang. Baru merasa cukup manakala mulutnya tersumpal tanah kuburan.

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat orang yang ada di atasmu, karena hal demikian lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (Riwaat Muttafaqun ‘alaihi).

Sebaliknya dalam masalah agama, ibadah dan ketakwaan, seharusnya kita melihat orang-orang yang di atas kita, yaitu para Nabi, sahabat, orang-orang yang jujur, para syuhada’, para ulama’ dan salafus-shalih.

Wasiat ketiga, menyambung silaturahim kepada kaum kerabat

Silaturahim adalah ungkapan mengenai berbuat baik kepada karib kerabat karena hubungan nasab (keturunan) atau karena perkawinan. Yaitu silaturahim kepada orang tua, kakak, adik, paman, keponakan yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Berbuat baik dan lemah lembut kepada mereka, menyayangi, memperhatikan dan membantu mereka.

Dengan silaturahim, Allah memberikan banyak manfaat. Di antaranya, menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dengannya akan menumbuhkan sikap saling membantu dan mengetahui keadaan masing-masing. Silaturahmi pula akan memberikan kelapangan rezeki dan umur yang panjang. Sebaliknya bagi yang mengabaikan silaturahim Allah sempitkan hartanya dan tidak memberikan berkah pada umurnya, bahkan Allah tidak memasukkannya ke dalam surga.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi” (Riwayat Bukhari).

Wasiat keempat, memperbanyak ucapan ‘La haula walaa quwwata illa bilLah’

Rasulullah memerintahkan memperbanyak ucapan La haula walaa quwwata illa bilLah’ agar kita berlepas diri dari merasa tidak mampu. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Makna kalimat ini juga sebagai sikap tawakkal, hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya pula kita memohon pertolongan.

Pada hakekatnya seorang hamba tidak memiliki daya-upaya apapun kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak bisa duduk di majelis ilmu melainkan dengan pertolongan Allah. Demikian juga seorang guru tidak mungkin bisa mengajarkan ilmu yang manfaat kepada muridnya melainkan dengan pertolongan Allah.

Nabi bersabda :

“Ya Abdullah bin Qois, maukah aku tunjukkan kepadamu atas perbendaharaan dari perbendaharaan surga? (yaitu) ‘La haula walaa quwwata illa billah’ (Riwayat Muttafaqun ‘Alaih).

Wasiat kelima, berani mengatakan kebenaran meskipun pahit

Kebanyakan orang hanya asal bapak senang (ABS), menjilat agar mendapat simpati dengan mengorbankan kebenaran dan kejujuran. Getirnya kebenaran tidak boleh mencegah kita untuk tidak mengucapkannya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Apabila sesuatu itu sudah jelas sebagai sesuatu yang haram, bid’ah, munkar, batil, dan syirik, maka jangan sampai kita takut menerangkannya.

Sesungguhnya jihad yang paling utama ialah mengatakan kalimat kebenaran (haq) kepada penguasa yang zalim. Bukan dengan cara menghujat aib mereka di mimbar-mimbar, tidak dengan aksi orasi, demonstrasi, dan provokasi.

“Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, janganlah ia tampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Kalau penguasa itu mau mendengar nasehat itu, maka itu yang terbaik. Dan apabila penguasa itu enggan, maka ia sungguh telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya” (Riwayat Ahmad)

Wasiat keenam, tidak takut celaan dalam berdakwah.

Betapa berat resiko dakwah yang Rasulullah dan sahabat alami. Mereka harus menderita karena mendapat celaan, ejekan, fitnah, boikot. Juga pengejaran, lemparan kotoran, dimusuhi, diteror, dan dibunuh.

Manusia yang sakit hatinya kadang-kadang tidak mau menerima dengan penjelasan dakwah, maka para pendakwah harus sabar menyampaikan dengan ilmu dan hikmah. Jika dai mendapat penolakan dan cercaan jangan sampai mundur. Maka para penyeru tauhid, penyeru kebenaran jangan berhenti hanya dengan di cerca.

“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut dengan siapapun selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan” (Al-Ahzab [33]: 39).

Wasiat ketujuh, tidak suka meminta-minta sesuatu kepada orang lain.

Orang yang dicintai Allah, Rasul dan manusia, adalah mereka yang tidak meminta-minta. Seorang Muslim harus berusaha makan dari hasil jerih payah tangannya sendiri. Seorang Muslim harus berusaha memenuhi hajat hidupnya sendiri dan tidak boleh selalu mengharapkan belas kasihan orang.

“Sungguh, seseorang dari kalian mengambil tali, lalu membawa seikat kayu bakar di punggungnya, kemudian ia menjualnya, sehingga dengannya Allah menjaga kehormatannya. Itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia. Mereka bisa memberi atau tidak memberi” (Riwayat Bukhari).

»»   READMORE...

Andaikan Manusia Pandai Bersyukur

Oleh : Hosen Mohammad Dahri
Alumnus MAN Bangkalan 2005

Suatu ketika ku datangi pantai yang indah.ku tanyakan pada ombak yang tiada henti kejar- kejaran." hai ombak apakah kamu tidak capek tiap hari kejaannya kejar kejaran. " Dia bilang ini kan sudah kerjaanku kenapa aku harus capek? kemudian aku tanya pada karang apakah kamu tidak sakit setiap saat di terjang oleh ganasnya ombak? dia bilang" Tuhan menciptakanku sangat berharga dan sangat kuat, sehingga aku rela di terjang oleh ombak seperti apapun ganasnya..aku tanya pada pasir kenapa kamu masih sabar dan tidak mengeluh di ombang ambing ombak dan badai” dia bilang aku ini sangat bersyukur kepada tuhan yang mencciptakanku. sekalipu aku di ombang abingkan oleh ganasnya ombak dan badai, aku sangat berharga lho bagi manusia.mereka datang jauh-jauh hanya untuk mendatangiku, berbarig di atasku, bermain denganku bahkan aku di gunakan untuk tempt tempat yang indah seperti rumah, hotel, jembatan, jalan dan lain. aku merasa tuhan sangat adil menciptakan ku..

kemudian ku tanyakan pada pohon kelapa, pinus, dan rumputan yang bergoyang. kalo temen-teman kalian merasa sangat bersyukur dengan pemberian tuhan kepada mereka, apakah kalian sama atau sebaliknya dengan mereka? jawaban mereka sama, sangat bersyukur atas penciptaan dan beban yang di tanggungkan kepada mereka" pohon -pohon dan rawa-rawa itu menjawab. Tuhan mencipatkan kami semua sesuai dengan kebutuhannya masing masing, kata pohon aku bersyukur atas kegunaan yang aku peroleh andai aku tidak di tebang. selamanya, aku tidak akan bermanfaat bagi manusia, bagi hewan dan makhluk lainnya. kalo kata rumput. untungya ada yang menyabit aku untuk makanan, sapi, kebau, kambing, kelinci, dan yang lainnya. andai aku terus tumbuh, aku hanya akan jadi makhluk yang tak berguna dan tidak bagus di lihat manusia.

terakhir aku tanyakan kepada makhluk sesamaku yang bernama manusia. Hai!, kalian adalah makhluk yang paling sempurna yang pernah diciptakan Tuhan di muka bumi in, kalian punya akal, punya hati, punya nafsu, nurni dan itulah yang membedakan kalian menjadi makhluk sempurna di muka bumi ini di banding makhluk lainnya. Aku man bertanya kepada kalian sebenarnya apa si yang kalian inginkan dari kehidupan kalian?

Waw di lihat dari jawaban mereka, ternyata memang benar manusai itu sangat sempurna jawaban mereka" kami di ciptakan ke bumi ini hanya untuk mengadikan diri kepada Nya, aku sudah punya aturan Tuhan yang sudah jelas kebenarannya..

hidupku, matiku, hanya ingin mengabdi kepadaNya, aku hanya ingin kasih sayangnya, aku hanya ingin masuk surganya, dan aku hanya takut pada neraka yang akan membakar ku suatu saat nanti kalau aku tidak taat padanya.

Kemudian ku tanyakan pada suatu golongan manusia yang mengatas namakan modern, gaul, bebas dan lains ebagainya, kalau kalian hidup di dunia ini untuk apa dan untuk siapa? Mereka menjawab” kami di dunia ini hidup untuk hidup dan untuk diriku sendiri, kami berkawan dengan orang lain hanya untuk kebutuhan dan kesenanganku sendiri, aku tak peduli orang lain seperti apa, merka makan atau tidak makan urusan mereka, yang penting aku bahagia, mereka sengsara, menderita, kelaparan, penyakitan, bodoh adalah urusan mereka sendri. terus aku tanyakan lagi, kalian dapatkan semua yang membuat kalian puas itu dari mana?. Mereka menjawab” ya, kita seperti ini karna kita berusaha, membuat pabrik-pabrik raksasa yang mengotori Lautan, mengambil pasir hingga terjadi erosi, menebang pohon sehingga banjir dan longsor terjadi di mana-mana, membakar hutan sehingga hewan-hewan, pohon-pohon, rumput mati semua. Apaka kalian tidak menyesala atas yang kalian lakukan” kata mereka” kami tidak perduli apa yang akan terjadi, aku tidak punya masa depan untuk anak-anakku, cucu-cucuku biarlah merka yang menanggung akibatnya, yang penting kami bahagia.

Terakhir ku tanyakan kepada sahabat-sahabat/ saudara-saudara semua..

manusia memang makhluk paling sempurna..namun juga jadi makluk hina karna tidak memikirkan makhluk ciptaan tuhan lainnya.. akankah manusia mengahncurkan manusia lainya, akankah manusia mengancurkan sendiri tempat tinggalnya….jawabanya ada pada kita semua yang bernama manusia…
»»   READMORE...

Laki-Laki Sejati

Oleh : Ahmad Shonhaji Hannan
Alumnus MAN Bangkalan 1998


Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar,
tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang,
tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat disekitarnya,
tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati ditempat bekerja,
tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah.

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan,
tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,
tetapi dari hati yang ada dibalik itu.
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja,
tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya.
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dari jumlah barbel yang dibebankan,
tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan.
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci,
tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang dia baca.

»»   READMORE...

Antara Cinta Dan Nafsu

Oleh : Aisyah Hasan
Alumnus MAN Bangkalan '97


Cinta dan nafsu bagaikan dua saudara kembar yang sulit dipisahkan. Cinta kadangkala membuat seseorang menjadi buta dan mendewakan ‘hawa nafsunya’ daripada akal sihatnya. Cinta dapat membuat seseorang mabuk dan mengorbankan kehormatan dan norma dirinya sendiri. Cinta membuat seorang raja bagaikan seorang hamba sahaya dan cinta seringkali diatasnamakan oleh orang-orang yang mengejar kenikmata untuk memuaskan hawa nafsunya belaka.

Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta antara dua anak manusia tetapi islam mengajarkan untuk menempatkan perasaan cinta itu dalam tempat yang sewajarnya. Islam mengajarkan bahawa kecintaan kepada Allah dan Rasul-NYA haruslah lebih utama daripada kecintaan kepada lawan makhluk

Dengan memiliki kecintaan ini nescaya dua orang yang sedang saling mencinta akan tetap menjaga cintanya tetap suci jauh dari tingkahlaku yang dilarang Allah dan Rasul-NYA yang akan mengotori cinta itu sendiri. Kecintaan seperti inilah yang akan mengubati rasa sakit akibat cinta itu dan menumbuhkan perasaan kasih sayang yang tulus ikhlas.

Islam sangatlah melarang untuk menempatkan rasa cinta terhadap sesuatu diatas kecintaan bukan kerana Allah dan Rasul-NYA kerana kecintaan seperti itu hanyalah akan membawa malapetaka dan bukanlah kebaikan. Firman Allah SWT,

“ dan diantara mannusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (Surah Al-Baqarah: 165)

Sabda Rasulullah SAW yang maksudnya:

“tidaklah seseorang diantara kalian beriman sehingga aku menjadi orang yang lebih dia cintai daripada anak dan bapanya serta semua manusia” (HR Ahmad)

Kecintaan yang tulus kepada Allah dan Rasul-NYA memberikan ketenangan dalam hidupnya terhadap persoalan-persoalan cinta serta mengawal gejolak nafsunya kepada hal yang diredhai Allah. Kecintaannya kepada Allah dan Rasul-NYA yang mampu menahan godaan-godaan yang lebih diakibatkan nafsu berahi yang mampu menjerumuskannya dan kekasihnya ke jalan yan dimurkai Allah. Kerana cinta yang tulus dan murni itu datangnya hanyalah dari Allah sebagai sebuah fitrah yang harus disyukuri bukan diderhakai.

»»   READMORE...